Minggu, 06 Juli 2014
Minggu, 11 Mei 2014
Kaidah Penulisan Dialog
"Aku mau sendiri dulu." Aku melangkah pergi
=> jika akhir kalimat dialog adalah titik (.) , maka awal huruf kalimat berikutnya harus huruf besar.
"Semua akan baik-baik saja," kata Reni
=> jika akhir kalimat dialog adalah koma (,), maka awal huruf kalimat berikutnya harus huruf kecil.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyaku
=> jika akhir kalimat dialog adalah tanya (?), maka awal huruf kalimat berikutnya harus huruf kecil.
"Hentikan!" teriak Lala
=> jika akhir kalimat dialog adalah koma (,), maka awal huruf kalimat berikutnya harus huruf kecil.
Minggu, 27 April 2014
Cerpen : KLUET
KLUET
“Kapan
kamu wisuda, Man?”
Pertanyaan
itu diajukan Apak satu tahun yang lalu. Saat aku masih di
semester ke enam perkuliahanku. Baru tiga perempat jalan dari waktu yang
seharusnya kutempuh. Kupahami bagaimana maksud dan keinginan Apak, beliau hanya ingin aku segera
menyelesaikan studiku dan secepatnya bekerja, membantu meringankan beban yang
harus dipikulnya.
Kini
keinginan Apak terwujud, aku telah
menyelesaikan studiku sesuai dengan janjiku. Hanya empat tahun dengan gelar
strata-1. Namun, bukan Rahman namanya jika puas hanya dengan gelar tersebut.
Bukan, bukan sekadar gelar yang aku kejar. Ada hal lain yang lebih aku
inginkan.
Rasa
lelah masih merasuki seluruh bagian persendianku. Namun, kurasa terlelap tiga
puluh menit sudah cukup membalas rasa letih di perjalanan selama 12 jam dengan
sepeda motor matic kesayanganku dari
Banda Aceh menuju desa kelahiranku, Durian Kawan. Tak ada kereta yang dapat
mengantarkanku ke desa ini, tidak juga bis, atau angkot, yang ada hanya mobil
L300. Biasanya digunakan untuk mengangkut sayur hasil tani penduduk di
daerahku.
“Apa
dengan gelar S1 saja kamu tidak bisa langsung bekerja?” suara Apak mengawali percakapan di ruang tamu.
Aku
menghela nafas panjang. Sudah begitu sering aku perdebatkan masalah ini dengan Apak. Keinginanku melanjutkan
pendidikanku ke Strata-2 di Jakarta.
“Apa
yang ingin kamu kejar di Jakarta Man, kenapa tak di sini saja?” tanya Apak lagi. “Kamu kan bisa menerima
tawaran Pak Matsum untuk menggantikan dia menjabat menjadi kepala desa, yang
sebentar lagi akan pensiun itu. Cukuplah itu, tak perlu kamu sekolah lagi, di
Jakarta pula.”
“Tidak
cukup hanya itu, Apak. Rahman ingin
lebih dari itu, kalau menjadi kepala desa tidak akan mampu memperbaiki
kehidupan di sini. Kepala desa itu harus menurut pada pimpinan di atasnya.
Percaya pada Rahman, nantinya Rahman akan kembali ke desa ini dalam bentuk apa
pun. Rahman mencintai desa ini.”
Rasanya,
ini kesekian kalinya aku menjelaskan alasanku dan berusaha membujuk Apak dengan kata-kata yang sama. Aku
tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan restunya melanjutkan kuliah di
Jakarta.
Kulihat
Apak membisu. Kepulan asap tembakau
yang dibakar mengepul dari mulutnya. Kerutan di wajahnya cukup menyiratkan dia
telah puas mengecap pahitnya kehidupan yang harus dijalaninya, membesarkan
tujuh orang anak dengan sawah menjadi tumpuannya.
“Sudahlah
Pak, biarkan saja Rahman melanjutkan
sekolahnya, Mak percaya dia bisa
memperbaiki desa ini nantinya. Apalagi, kan kita tidak perlu mengeluarkan biaya
untuk sekolahnya di Jakarta.” Mak masuk
membawa dua gelas teh hangat berusaha menengahi perdebatan aku dan Apak.
Apak masih
diam tak bergeming.
***
Kulangkahkan
kaki menuju saluran irigasi, kulihat adik kecilku nomor dua, Munawir sedang
asyik bersama teman-temannya bermain bede
buluh di halaman depan rumah. Sudah lama sekali aku tak memainkan bede buluh. Mainan khas dari daerahku,
kecamatan Kluwet Timur. Bentuknya
seperti tembakan yang terbuat dari bambu dengan diameter kurang dari satu
centimeter dan amunisinya berupa bunga jambu, atau kertas yang sudah dibasahi
dengan air. Mainnya lebih seru beregu, sambil bersembunyi di balik pepohonan,
asik sekali. Dulu, selagi kecil aku suka memainkannya bersama Indra dan Evan.
Sekarang di sekitar kosku di daerah Banda, tak lagi dapat kujumpai anak-anak
seusia mereka memainkan mainan ini.
Mungkin,
dua tahun lagi baru aku akan kembali ke sini. Untuk itu, aku ingin menikmati
udara segar desa ini. Di Banda, tak dapat kurasakan udara sesegar ini di
Jakarta nantinya pun tak akan kurasakan udara sesegar ini. Apalagi, posisi
rumahku yang berada di ujung jalan dan berhadapan langsung dengan persawahan.
Sayangnya, saat ini bukan pemandangan pagi
yang sedang menghijau yang terhampar di hadapanku, hanya hamparan tanah
kosong tak berisi. Akhir dari penglihatan mata adalah gunung Batu Ampar, kalau
tidak salah Apak pernah mengatakan nama desa di lereng
gunung tersebut Tanaoh Munggu, masih masuk dalam kecamatan Kluwet Timur.
Pada
bulan seperti ini, pagi masih dalam
proses pembibitan. Dalam satu tahun, petani hanya mampu sekali memamen pagi mereka. ini dikarenakan oleh
irigasi Payo Dapur yang rusak. Jika
saja irigasi tersebut baik-baik saja, petani bisa dua kali panen dalam setahun.
Namun sayangnya, irigasi yang telah rusak selama lebih dari satu dekade
tersebut tak kunjung ada perhatian yang serius. Padahal, sudah ada anggaran
untuk perbaikan irigasi tersebut dari APBA tahun 2003 dan APBA tahun 2008.
Tapi, hingga kini tak kunjung terealisasi. Dan ini satu dari sekian banyak
keinginanku. Merealisasikannya.
Sebenarnya,
tidak hanya pagi yang menjadi hasil
panen dari Desa Durian Kawan, ada juga jagung, kakao (coklat), lado (cabai), acom (jeruk nipis), galuh (pisang) dan masih ada beberapa lainnya.
“Hey
Man, bagaimana kabarmu? Tumben mudik bulan segini? Sudah selesaikah kuliahmu?”
tanya Evan dengan semangatnya menyapaku.
Aku
tersenyum melihatnya. Dia tetap Evan teman kecilku, selalu menyambutku dengan
ramah setiap kali aku kembali ke sini. Tubuhnya semakin berisi saja, di tempa
oleh teriknya sinar surya. Dia tak seberuntung aku, hidupnya diabadikannya di
desa ini. Meneruskan pekerjaan kedua orang tuanya.
“Seperti
yang pernah kuceritakan kawan, seandainya irigasi ini dapat diperbaiki lagi,
maka kita bisa membantu ekonomi petani di sini, kamu lihat sendiri bagaimana
kondisi mereka saat ini. Curah hujan menjadi satu-satunya tumpuan mereka.”
“Ya,
aku mengerti Van. Banyak oknum yang bermain di belakang anggaran dana untuk
pembuatan saluran irigasi ini.”
“Iya
kawan, kami sudah pasrah saja sekarang ini. Berharap pemerintah pusat
mendapatkan mukjizat untuk berbaik hati kepada kami.”
Aku
tergugah. Ingat perdebatanku dengan Apak kemarin
sore. Mataku menatap lurus ke arah pintu irigasi yang telah rusak akibat
terjangan banjir yang begitu deras. Sejak Aceh memperoleh status Otonomi Khusus
dan diperkuat oleh Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), wilayah Kluet pun pecah menjadi lima yaitu, Kluet
Utara (Kota Fajar), Kluet Selatan (Kandang), Kluet Tengah (Menggamat), Kluet
Timur (Payo Dapur) dan Kluet Barat (Pasieraja).
Pemekaran wilayah
yang diharapkan pemerintah untuk membuat masing-masing daerah semakin
berkembang justru berakibat sebaliknya. Suku kluwet menjadi terpecah belah,
bahkan muncul konflik baru.
Pasieraja misalnya,
karena tidak ada masyarakat Pasieraja yang berbahasa ibu bahasa Kluwat,
orang-orang di sana terkesan tidak mengakui wilayahnya sebagai wilayah Kluet.
Bahkan, tersebar isu, jika dipaksakan wilayah Pasieraja dengan nama Kluet
Barat, masyarakat akan meminta wilayahnya dimasukkan ke Kecamatan Tapaktuan
saja. Karena itu, plang nama kantor camat wilayah ini dengan jelas ditulis
“Camat Kecamatan Pasieraja”, bukan “Camat Kecamatan Kluet Barat dengan Ibukota
Pasieraja”. Sementara Kluet Timur sendiri, daerahku kekurangan air untuk
keperluan irigasi.
“Oh ya kawan, kamu
belum menjawab, bagaimana kuliahmu? Sudah selesai?” tanyanya menghentikan
lamunanku.
“Alhamdulillah
sudah Van, aku mau melanjutkan ke Jakarta. Seperti yang telah kujanjikan. Aku
ingin mengabdikan hidupku untuk desa ini.”
“Bagaimana dengan Apak kamu? Sudah mengijinkan?”
“Tidak ada jawaban
Van, Apak hanya diam kemarin sore.”
“Aku percaya kamu
mampu kawan, kalau bukan kita sendiri siapa lagi yang akan memperbaiki desa
ini. Pemerintah tak bisa banyak diharapkan.”
“Ya Van, aku akan
memimpin Kluet Timur beberapa tahun lagi. Doakan saja,”
***
Aku merajut mimpi ini sejak aku
duduk di bangku SMA. Mimpi membangun desaku, melihat air kembali mengalir dari
pintu irigasi Payo Dapur. Di Jakarta aku akan melanjutkan rintisan karirku dari
Banda. Beasiswa S2 di Jakarta membuat jalanku terbuka lebar, hanya tinggal
menunggu restu Apak saja. Tapi,
tampaknya begitu berat, meski Mak
sudah mengijinkan.
“Pergilah, Apak cuma butuh waktu untuk memahami maksud kamu.” Ujar Mak meyakinkanku.
Kulihat Apak berdiri di sudut beranda rumah menghadap ke arah sawah. Aku
tak mengerti apa yang tengah dipikirkannya sekarang. Bagaimana mungkin aku
pergi tanpa seijin beliau. Ada ragu menyelinap di hati.
“Pak,,,”
panggilku pelan
Dia menoleh, sungguh aku tak sanggup
menatapnya. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Aku takut membuatnya kecewa dengan
keputusanku yang akan tetap ke Jakarta meski tanpa izinnya.
Sebuah tepukan mendarat di pundakku.
“Pergilah, lakukan apa yang kamu impikan, lalu kembalilah lagi ke sini. Buat penduduk
sini bangga punya kamu.”
Inna mal ‘amalu bin niyat.
TAMAT
Palembang, 09 April
2013
Khadijah Anwar.
Juara I Lomba Cerpen Milad KAMMI di IAIN RF Palembang
Rabu, 25 Desember 2013
Lomba Menulis Puisi "Aku dan Duniaku" by PELITA Indonesia (DL: 31 Des 2013
LOMBA CIPTA PUISI BERHADIAH
UANG & PAKET BUKU
Hai Sobat, pernah menulis puisi? Nah, ini ada lomba menarik buat
Sobat. Menjelang akhir tahun, tentu Sobat perlu melakukan perenungan diri
dengan cara masing-masing. Salah satu cara menarik adalah dengan puisi. Yuk,
tunggu apalagi, manfaatkan lomba berhadiah ini.
Deadline: 31 Desember 2013
(23.59 WIB)
Tema: AKU DAN DUNIAKU
Hadiah Pemenang
·
Juara 1: Rp500.000,- + paket buku senilai seratus ribu +
e-sertifikat
·
Juara 2: Rp300.000,- + paket buku senilai seratus ribu
+e-sertifikat
·
Juara 3: Rp150.000,- + paket buku senilai seratus ribu +
e-sertifikat
Semua peserta mendapatkan e-sertifikat loh…
Ketentuan Lomba
Peserta adalah WNI yang berdomisili di dalam & luar negeri.
Peserta memiliki kartu identitas, pilih salah satu: Kartu pelajar,
KTM, KTP, SIM.
Usia peserta tidak dibatasi.
Lomba Menulis Cerpen "Cinta SMA/Sederajat se-SulSel (DL: 31 Des 2013)
Lomba Menulis Cerpen "Cinta" SMA/Sederajat se-SulSel (DL: 31 Des 2013)
Sampaikan cinta pada mereka
dalam sebuah karya fiksi! Untuk 20 karya cerpen kalian yang terbaik, akan
dibukukan dalam sebuah antologi cerpen !
Reward : Memerebutkan Piala Bergilir dari Pimpinan Wilayah IPM
Sul-Sel
SYARAT PENULISAN :
Jumlah 3 – 5 halaman, spasi 1,5, jenis font Times New Roman 12,
ukuran kertas A4.
Margin (garis) : atas, bawah, kiri, dan kanan (semua sisi
3 cm/1,18 inci). Beri nomor pada halaman.
Kesesuaian dengan tema lomba, tidak mengandung asusila,
pornografi, dan tidak menyinggung SARA.
Tema lomba adalah CINTA secara luas. Pada keluarga, teman, sahabat,
saudara, atau kepada siapapun!
Biodata penulis ditulis di bagian akhir naskah cerpen, halaman
biodata tidak dihitung sebagai halaman naskah cerpen. Biodata tidak terpisah
dengan lampiran cerpen.
Biodata setidaknya berisi nama, alamat email, no HP, akun twitter,
dan asal sekolah.
Kirim naskah cerpen di
email : lmc.coto@gmail.com
Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 karya terbaiknya.
Lomba Menulis Resensi Buku Indiva - Juara 1: 1,5jt (DL: 31 Des 2013)
Lomba Menulis Resensi Buku Indiva - Juara 1: 1,5jt (DL: 31 Des 2013)
Suka membaca buku? Mengapa tak mencoba menjadi pembaca kritis nan
cerdas? Yuk, ikuti lomba berhadiah total jutaan rupiah ini!
Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013
FIKSI
·
Da Conspiracao, Sebuah Konspirasi (Afifah Afra)
·
Rinai (Sinta Yudisia)
·
Jasmine, Cinta yang Menyembuhkan Luka (Riawani Elyta)
·
A Cup of Tarapuccino: Secangkir Cinta, Rindu dan Harapan (Riawani
Elyta)
·
3 Anak Badung (Boim Lebon)
·
My Avilla (Ifa Avianty)
·
Altitude 3676 Takhta Mahameru (Azzura Dayana)
·
Cinta yang Membawaku Pulang (Agung F. Aziz)
NON FIKSI
·
Sebelum Aku Menjadi Istrimu (Deasylawati)
·
Kitab Cinta dan Patah Hati (Sinta Yudisia)
·
Buku Asyik Si Cewek Cantik (Asri Istiqomah)
·
Dari Jerawat Hingga Cinta Monyet (M. Dzanuryadi & Ahmad Izzan)
·
Kitab Sakti Remadja Onggoel (Riawani Elyta & Oci Y. Marhari)
·
Malam, Janganlah Cepat Berlalu (Hatta Syamsuddin)
Selasa, 03 Desember 2013
Melemang Tradisi 10 Muharam
MELEMANG TRADISI 10 MUHARAM KARANG RAJA
Ntah dari mana aslinya tradisi ini, yang jelas setiap malam menjemput 10 Muharam, Desa Karang Raja, Kec. Muara Enim selalu melaksanakan tradisi ini. Acaranya luar biasa ramai. Bagaimana tidak. Desa yang terdiri atas 5 kampung ini, memiliki lebih dari 2000 Kepala Keluarga. Dan setiap kepala keluarga diwajibkan membuat lemang. Jika, satu KK saja membuat 10 lemang (biasanya lebih dari 40 lemang / KK), maka akan ada 20.000 lemang. Banyak sekali bukan?
Acaranya juga dihadiri langsung oleh bupati Muara Enim, yang menyumbang 100 kg ketan untuk Lemang. acara melemang diisi dengan tarian melemang dan berbagai acara lainnya. Sepanjang Jalan Karang Raja akan macet total. karena begitu besarnya antusias warga merayakan tradisi melemang, baik dari dalam kampung sendiri, maupun orang dari luar desa. Setiap orang yang datang berkunjung pasti akan mendapatkan lemang dari warga.
Oh ya, Lemang sendiri adalah makanan yang terbuat dari campuran beras ketan dan kelapa parut, yang dicampur juga dengan isi pisang atau udang atau bawang, dimasukkan kedalam bambu berukuran 30cm atau lebih panjangnya. Kemudian dipanggang di atas bara api. Namun, karena waktu memasaknya yang terlalu lama jika hanya dengan di panggang, maka kini disiasati dengan direbus terlebih dahulu baru kemudian dibakar. Rasanya tetap sama saja.
![]() |
| Melemang di tempat kak Manto |
Melemang, Karang Raja, 14 Nov 2013
^Khadijah Anwar^
Diksar Relawan RZ Palembang 2013
Kisah Penuh Cerita di Rimba Kemampo
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tetap semangat bahagiakan ummat !!! Allahu Akbar !!!
Jargon itu kini selalu menggema di sanubari, waktu tiga hari memberi banyak pelajaran bagi KA. Dan kini, saatnya KA berbagi kisah sama kalian.
Kegiatan ini diberi nama Pendidikan Dasar (Diksar) Relawan Rumah Zakat. Diksarnya dilakukan selama 3 hari, sejak Jum'at, 29 November 2013 hingga Minggu, 1 Desember 2013. Sebelum pelaksanaan Diksar, kami peserta telah melalui beberapa tahap. Mulai dari tes fisik, hingga latihan pra diksar.
Rabu, 20 November 2013
Setelah 1 Tahun
Terjun ke dunia ini bukan hal baru bagiku, dari mulanya
terpaksa hingga akhirnya aku mencintainya. Namun,ke pendidikan formalnya
adalah hal baru bagiku. Baru 1 tahun berjalan, semua terasa hambar. Dan
akhir-akhir ini aku merasa jenuh. Ntah karena apa.
Tapi, hari ini aku tersadar. Semangat itu membuncah kembali, saat kedekatan itu menghangat. Sepertinya memang aku yang selama ini terlalu menutup diri pada mereka. Saat hari ini, waktuku sepenuhnya kuhabiskan untuk mereka. Untuk siswa-siswa yang telah memberi warna baru dalam hidupku, untuk guru-guru yang selama ini berusaha mengakrabkan diri denganku, untuk seluru petugas sekolah yang juga tak pernah lelah menyapaku..
Ahh,, rupanya setiap pekerjaan yang dilakukan tidak dengan totalitas, maka hasilnya tidak akan memuaskan. seperti yang kulakukan satu tahun belakangan. Ragaku di sana, namun tidak dengan jiwa dan hatiku yang belum terpaut di sana. Lagi-lagi aku sadar, aku telah membiarkan waktu satu tahunku terbuang. Namun, tidak sia-sia. Karena dalam waktu itu, aku belajar banyak hal.
Tak semua hal yang kita harapkan dapat dicapai dengan cara yang baik. Allah selalu punya cara untuk menunjukkan apa yang kita inginkan. Dalam satu tahun pencarian itu, tadi aku benar-benar tersadar. Betapa hangatnya mereka. Betapa nyaman nya berada di sekitar mereka.
Terima kasih karena mengajarkanku banyak hal. Terima kasih juga untuk setiap cinta yang kalian berikan siswa-siswiku. . :) :)
Maaf untuk waktu yang kusia-siakan...
Love u all....
Sekolah pertamaku, teman-teman guru pertamaku, dan siswa-siswi cerdas yang pernah kumiliki... ^_^
in . :D :D
Tapi, hari ini aku tersadar. Semangat itu membuncah kembali, saat kedekatan itu menghangat. Sepertinya memang aku yang selama ini terlalu menutup diri pada mereka. Saat hari ini, waktuku sepenuhnya kuhabiskan untuk mereka. Untuk siswa-siswa yang telah memberi warna baru dalam hidupku, untuk guru-guru yang selama ini berusaha mengakrabkan diri denganku, untuk seluru petugas sekolah yang juga tak pernah lelah menyapaku..
Ahh,, rupanya setiap pekerjaan yang dilakukan tidak dengan totalitas, maka hasilnya tidak akan memuaskan. seperti yang kulakukan satu tahun belakangan. Ragaku di sana, namun tidak dengan jiwa dan hatiku yang belum terpaut di sana. Lagi-lagi aku sadar, aku telah membiarkan waktu satu tahunku terbuang. Namun, tidak sia-sia. Karena dalam waktu itu, aku belajar banyak hal.
Tak semua hal yang kita harapkan dapat dicapai dengan cara yang baik. Allah selalu punya cara untuk menunjukkan apa yang kita inginkan. Dalam satu tahun pencarian itu, tadi aku benar-benar tersadar. Betapa hangatnya mereka. Betapa nyaman nya berada di sekitar mereka.
Terima kasih karena mengajarkanku banyak hal. Terima kasih juga untuk setiap cinta yang kalian berikan siswa-siswiku. . :) :)
Maaf untuk waktu yang kusia-siakan...
Love u all....
Sekolah pertamaku, teman-teman guru pertamaku, dan siswa-siswi cerdas yang pernah kumiliki... ^_^
in . :D :D
Sabtu, 26 Oktober 2013
Puisi : CELOTEH SI MARFU’AH
CELOTEH
SI MARFU’AH
Oleh
: Khadijah Anwar
Marfu’ah,,,
Terlahir di sudut negri,
pada sebilah tanah berpijak
Tumbuh dan berkembang
seorang diri,
Tanpa sentuhan APBN,
APBD, bahkan BOS
Ia tetap tumbuh, meski
tak sehat lagi
Hingga akhirnya, ia
mampu melahirkan anak-anak negri
Wahai penguasa negri, tak kah dapat kau berlaku adil
Beri dia makanan layaknya anak-anak Bapak
Beri dia vitamin, agar janin-janinnya tumbuh sehat
Beri dia minum, pelepas dahaga…
Bukan
tak mau melontar persoalan
Hanya
saja, dia telah muak akan permainan negri
Andai saja, kalian tak
bercerai,,
Tak akan ada DIKNAS sebagai
Bapak dia
Tak kan ada DEPAG sebagai
Ibu ia
Dan tak akan ada
celoteh si Marfu’ah
Mungkin ia dan dia akan
makan nasi yang sama
Vitamin-vitamin
terbaik, air segar pelepas dahaga yang sama
Marfu’ah…
Madrasah
di sudut negri
Rahim
pengandung generasi bangsa…
Ruang
Kata, 25 Oktober 2013
Teruntuk
para pemilik kuasa
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
